{"id":650,"date":"2020-08-13T13:30:19","date_gmt":"2020-08-13T06:30:19","guid":{"rendered":"http:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/?p=650"},"modified":"2020-08-13T13:30:53","modified_gmt":"2020-08-13T06:30:53","slug":"rumah-berbasis-komunitas-sebuah-alternatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/?p=650","title":{"rendered":"RUMAH BERBASIS KOMUNITAS, SEBUAH ALTERNATIF"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:justify\">Serial program televisi swasta \u201cBedah Rumah\u201d nyaris selalu\nmampu menguras emosi dan airmata penggemarnya. Selalu dan berulang digambarkan\ndalam program &nbsp;itu bagaimana sebuah\nkeluarga tak mampu dengan rumah reyot, kadang nyaris hampir ambruk, kemudian\nditolong \u201cmalaikat\u201d tim bedah rumah. Gratis! Rumah lama dirata tanah, kemudian\ndibangun lagi rumah yang baru. Tangis haru pun membuncah begitu keluarga\nberuntung itu kemudian mendapati rumah barunya lebih indah dan layak huni.\nProgram acara tersebut tayang pada prime time. Banyak pemirsanya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Program televise swasta \u201cBedah Rumah\u201d menunjukkan\nkeberhasilan stasiun televise swasta dalam menyajikan pilihan tayangan bagi\npemirsanya. Program acara tersebut mengusik sisi dalam manusia akan salah satu\nkebutuhan pokok manusia : Rumah! Pada sisi lain progam tersebut selalu menggaris\nbawahi problem klasik banyak warga masyarakat kita dalam mewujudkan impian\nmemiliki rumah, yakni kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-empat\nmemberikan dua pengertian akan kata rumah. Pertama, bangunan untuk tempat\nringgal. Kedua, bangunan pada umumnya (seperti gedung). Pengertian pertama\nlebih mengena dalam konteks keluarga. Kata rumah kerap berangkai dengan kata\nlain menjadi rumah tangga. Kata terakhir bermakna \u201cyang berkenaan dengan urusan\nkehidupan dalam rumah\u201d atau bermakna \u201cberkenaan dengan keluarga\u201d. Setiap\nmanusia secara kodrati mengangankan memiliki rumah sendiri. Keinginan ini\nsemakin menguat ketika seseorang telah menikah dan membangun keluarga. Dalam\nkeluargalah setiap pribadi tumbuh dan berkembang sekaligus menjadi bagian dari\nwarga masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Tidak semua keluarga beruntung memiliki rumah. Banyak\nkeluarga, khususnya keluarga baru yang belum mapan tidak mampu membangun atau\nmembeli rumah layak huni. Rumah layak huni seakan hanya mimpi, sebagaimana\nbeberapa penonton menonton tayangan serial Bedah Rumah. Problematika harapan\nmemiliki rumah layak huni menjadi semakin rumit pada daerah perkotaan dimana\nketersediaan lahan semakin sempit dan harga tanah tinggi. Warga kaum miskin dan\nberpenghasilan rendah kemudian terpaksa menghuni rumah-rumah sewaan atau bahkan\nterpaksa berdesak-desakan di pemukiman kumuh kolong jalan tol atau tepian\nbantaran kali.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Pemerintah tidak menutup mata\ndengan permasalahan perumahan tersebut. Beragam program dilahirkan dan\ndilaksanakan oleh pemerintah, seperti Program\nSatu Juta Rumah (dicanangkan sejak tahun 2015) yang diikuti dengan\nprogram-program terkait kemudahan mendapatkan rumah, diantaranya lewat program\nFasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Subsidi Selisih Bunga, Subsisdi Uang\nMuka. Selain itu program untuk peningkatan kualitas perumahan, Pembangunan Baru\nserta Rumah Susun dan Rumah Khusus. Melalui Kementrian Perumahan Rakyat,\ndalam laman <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/perumahan.pu.go.id\/&amp;sa=D&amp;ust=1596882267905000&amp;usg=AFQjCNGKWqw-kMkL5Qb3nJGDWf5ifkvdbw\">https:\/\/perumahan.pu.go.id\/<\/a> pemerintah\nmenyodorkan beberapa tawaran, seperti Program Bantuan Prasarana, Sarana, dan\nUtilitas Umum untuk perumahan umum, Program Bantuan Stimulant Rumah Swadaya, Program\nPenyedian Rumah Khusus, dan Program Bantuan Pembangunan dan Pengelolaan Rumah\nSusun. <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Program-program pemerintah telah banyak\nmengurangi permasalahan perumahan. Tetapi juga tidak dapat menyelesaikan\nseluruh permasalahan yang ada. Bahkan muncul pula kendala hambatan di tengah\nperjalanan pelaksanan program-program tersebut. Masyarakat, utamanya dari\nmasyarakat berpenghasilan rendah, seringkali kesulitan mengakses informasi\nterkait program-program tersebut. Seringkali terdapat kelompok masyarakat yang\ntidak bersedia dan tidak setuju mengikuti program bantuan pemerintah\ndengan beragam alasan seperti, ketidakmampuan swadaya atau ketidakmampuan\nmembayar cicilan kredit, meskipun telah disubsidi besarannya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Rumah\nBerbasis Komunitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Rumah berbasis\nkomunitas merupakan rumah atau perumahan yang dibangun dan dikelola oleh\nkomunitas. Kenapa harus komunitas? Komunitas\n(Sonarno) merupakan sebuah identifikasi &amp; interaksi sosial yang dibentuk\ndengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Komunitas (Paul B. Horton dan\nChaster L. Hunt) merupakan kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan\nkeanggotaannya dan saling berinteraksi satu sama lainnya. Komunitas memiliki\nbeberapa manfaat keuntungan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Media Penyebaran Informasi, dimana dalam sebuah komunitas,\n     setiap anggota dapat saling bertukar informasi (baik membagikan atau pun\n     menerima) yang terkait dengan tema komunitas yang terbentuk.<\/li><li>Terbentuk Jalinan\/Hubungan antar sesama anggota\n     komunitas yang memiliki hobi atau pun berasal dari bidang yang sama.<\/li><li>Saling Bantu\/Dukung, antar anggota komunitas (karena\n     berasal dari bidang yang sama) dapat menjadi saling membantu antar sesama\n     anggota atau pun ke luar anggota komunitas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Bertolak dari\nidentitas yang sama dan manfaat serta keuntungan anggota dalam atmosfer\nkomunitas, maka (anggota-anggota) komunitas dengan permasalahan perumahan yang\nsama dapat saling bantu untuk membangun rumah mereka sendiri.&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Kesamaan karakteristik tersebut akan memungkinkan mereka mudah\ndalam &nbsp;bergotongroyong mewujudkan impian\nrumah. Bayangkan jika seorang tukang bakso&nbsp;\nsecara soliter membangun rumah! Maka penyediaan tanah akan menjadi\nkendala besar. Semisal ia telah menentukan pilihan lokasi tanah tertentu,\ndengan pertimbangan harga murah, belum tentu lokasi tanah pembangunan rumah sesuai\ndengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Daerah. Pertimbangan akses sarana dan\nprasarana perumahan apakah sudah sampai di lokasi tersebut? Kriteria\npertimbangan lain, kecocokan dengan lingkungan sekitar tanah yang akan dibangun\nrumah. <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Akan berbeda hasilnya jika komunitas pedagang bakso\nkeliling dengan 50 anggota misalnya merencanakan dan membangun perumahan secara\nbersama-sama. Tentunya mereka dapat saling berbagi beban dan saling bantu\nmewujudkan impian rumah tersebut. Pihak pemerintah baik pusat maupun daerah\ndapat menempatkan program yang sesuai tergantung tingkat penghasilan dan\nkesiapan dana, serta mengkomunikasikan dengan pihak terkait semisal BPN untuk\npertanahan serta Bank pendamping untuk kemudahan pinjaman.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Pihak pemerintah baik pusat maupun\ndaerah mendukung, melakukan pendampingan dan fasilitasi serta membantu\nkomunitas dalam pelaksanaan program. Mewujudkan rumah dalam komunitas, bagi\nwarga Masyarakat Berpenghasilan Rendah memiliki keuntungan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Komunitas dapat menentukan sendiri\ndesain rumah mereka. Dengan desain yang mereka tentukan sendiri (mungkin dengan\nbantuan arsitek atau konsultan) maka keinginan akan gambaran rumah impian\nmenjadi lebih nyata. Perihal desain rumah sering menjadi salah alasan warga\ntidak mau menghuni rumah susun yang ditawarkan pemerintah. <\/li><li>Komunitas melakukan pengawasan langsung\npembangunan rumah karena merekalah yang berkepentingan langsung. Tentu saja hal\nini dapat dilakukan dengan pendampingan.<\/li><li>Mereka menentukan sendiri tata\nkelola pembangunan rumah mereka. Mereka juga dapat melakukan pengelolaan secara\nmandiri atau bergantian antar tetangga dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan\nrumah. Dengan basis komunitas maka diharapkan tata kelola dapat ditentukan\nsecara ikhlas bersama dan lebih mudah. <\/li><li>Kehidupan dalam perumahan\nkomunitas lebih harmonis dengan adanya kesamaan identitas komunitas. Hal ini\nmeminimalisir terjadinya konflik. <\/li><li>Rasa tanggung jawab\nwarga komunitas dalam merawat rumah mereka lebih besar<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Sistem produksi dan\npendekatan baru dalam perencanaan dan pembangunan perumahan dan permukiman,\nperlu dikembangkan lewat diskusi-diskusi dalam komunitas. Konsep-konsep\nkearifan budaya lokal di masing-masing daerah perlu terus dipertahankan dan\nditumbuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Konsep rumah berbasis\nkomunitas ini sejalan dengan anjuran John F C Turner dalam bukunya <em>Housing By People<\/em>, Kembalikan kepada\nrakyat hak mereka untuk memanfaatkan sumberdaya dan menentukan sendiri pilihan\nterbaik diantara segala altenatif yang terbuka bagi masa depan kehidupan\nmereka, dan masalah perumahan dengan sendiri akan terpecahkan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:justify\">Hari-hari ini kita mudah menentukan makna nasionalisme. Kita mudah menunjukkan pada peta bentangan wilayah negara Indonesia. Kita akan mudah menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia, yang berbahasa persatuan Bahasa Indonesia. Namun bayangkan apakah mudah memaknai nasionalisme sebelum momentum pembacaan naskah proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Sebelum momentum hari kemerdekaan itu, Indonesia adalah sebentuk impian akan kemerdekaan pada 1340 suku bangsa. Indonesia masih merupakan ide-ide berserak dalam pemikiran tokoh dan pejuang kemerdekaan seperti RA Kartini, Soewardi Soeryaningrat, Cipto Mangoenkoesoemo, HOS Cokroaminoto, Tan Malaka dan lain seterusnya. <em>Imagined Comunities<\/em>, komunitas-komunitas terbayang (meminjam istilah Benedict Anderson), akhirnya menemukan kesadaran nasionalisme final, setelah melalui perjuangan bersama di segenap lini melawan penindasan kolonialisme. Rumah berbasis komunitas akan terwujud dengan kesadaran dan usaha gotong-royong segenap anggota komunitas (pemerintah dapat pula mengambil peran),&nbsp; sebagaimana 1340 suku bangsa di nusantara yang akhirnya menyadari rumah bangsanya, rumah nasionnya :Indonesia <br><br><br><\/p>\n\n\n\n<p>Daftar Pustaka<\/p>\n\n\n\n<p><em>Prof. Ir. Eko Budihardjo<\/em>, M.Sc. Arsitektur dan Kota Di Indonesia, Penerbit Alumni. Th\n1997. Artikel : Pemukiman untuk Masyarakat Miskin, hal 55 dan artikel Sistem\nProduksi Pembangunan Perumahan, hal 69.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Benedict Anderson<\/em>. Imagined Communities, Komunitas-komunitas Terbayang. Pustaka Pelajar, cetakan kedua. 2002.<br><br><\/p>\n\n\n\n<p>https:\/\/perumahan.pu.go.id\/<br>https:\/\/www.pelajaran.co.id\/2019\/10\/pengertian-komunitas-tujuan-manfaat-dan-contoh-komunitas.html<br>https:\/\/news.unika.ac.id\/2018\/09\/komunikasi-kaum-marjinal\/<br>https:\/\/pengertiandefinisi.com\/pengertian-komunitas-manfaat-komunitas-dan-beberapa-pertimbangan-dalam-pembentukan-komunitas\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Serial program televisi swasta \u201cBedah Rumah\u201d nyaris selalu mampu menguras emosi dan airmata penggemarnya. Selalu dan berulang digambarkan dalam program &nbsp;itu bagaimana sebuah keluarga tak mampu dengan rumah reyot, kadang nyaris hampir ambruk, kemudian ditolong \u201cmalaikat\u201d tim bedah rumah. Gratis! Rumah lama dirata tanah, kemudian dibangun lagi rumah yang baru. Tangis haru pun membuncah begitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-650","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/650","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=650"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/650\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":653,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/650\/revisions\/653"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=650"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=650"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perkim.magelangkota.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=650"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}