RUMAH BERBASIS KOMUNITAS, SEBUAH ALTERNATIF

Serial program televisi swasta “Bedah Rumah” nyaris selalu mampu menguras emosi dan airmata penggemarnya. Selalu dan berulang digambarkan dalam program  itu bagaimana sebuah keluarga tak mampu dengan rumah reyot, kadang nyaris hampir ambruk, kemudian ditolong “malaikat” tim bedah rumah. Gratis! Rumah lama dirata tanah, kemudian dibangun lagi rumah yang baru. Tangis haru pun membuncah begitu keluarga beruntung itu kemudian mendapati rumah barunya lebih indah dan layak huni. Program acara tersebut tayang pada prime time. Banyak pemirsanya.

Program televise swasta “Bedah Rumah” menunjukkan keberhasilan stasiun televise swasta dalam menyajikan pilihan tayangan bagi pemirsanya. Program acara tersebut mengusik sisi dalam manusia akan salah satu kebutuhan pokok manusia : Rumah! Pada sisi lain progam tersebut selalu menggaris bawahi problem klasik banyak warga masyarakat kita dalam mewujudkan impian memiliki rumah, yakni kemiskinan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-empat memberikan dua pengertian akan kata rumah. Pertama, bangunan untuk tempat ringgal. Kedua, bangunan pada umumnya (seperti gedung). Pengertian pertama lebih mengena dalam konteks keluarga. Kata rumah kerap berangkai dengan kata lain menjadi rumah tangga. Kata terakhir bermakna “yang berkenaan dengan urusan kehidupan dalam rumah” atau bermakna “berkenaan dengan keluarga”. Setiap manusia secara kodrati mengangankan memiliki rumah sendiri. Keinginan ini semakin menguat ketika seseorang telah menikah dan membangun keluarga. Dalam keluargalah setiap pribadi tumbuh dan berkembang sekaligus menjadi bagian dari warga masyarakat.

Tidak semua keluarga beruntung memiliki rumah. Banyak keluarga, khususnya keluarga baru yang belum mapan tidak mampu membangun atau membeli rumah layak huni. Rumah layak huni seakan hanya mimpi, sebagaimana beberapa penonton menonton tayangan serial Bedah Rumah. Problematika harapan memiliki rumah layak huni menjadi semakin rumit pada daerah perkotaan dimana ketersediaan lahan semakin sempit dan harga tanah tinggi. Warga kaum miskin dan berpenghasilan rendah kemudian terpaksa menghuni rumah-rumah sewaan atau bahkan terpaksa berdesak-desakan di pemukiman kumuh kolong jalan tol atau tepian bantaran kali.

Pemerintah tidak menutup mata dengan permasalahan perumahan tersebut. Beragam program dilahirkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, seperti Program Satu Juta Rumah (dicanangkan sejak tahun 2015) yang diikuti dengan program-program terkait kemudahan mendapatkan rumah, diantaranya lewat program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Subsidi Selisih Bunga, Subsisdi Uang Muka. Selain itu program untuk peningkatan kualitas perumahan, Pembangunan Baru serta Rumah Susun dan Rumah Khusus. Melalui Kementrian Perumahan Rakyat, dalam laman https://perumahan.pu.go.id/ pemerintah menyodorkan beberapa tawaran, seperti Program Bantuan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum untuk perumahan umum, Program Bantuan Stimulant Rumah Swadaya, Program Penyedian Rumah Khusus, dan Program Bantuan Pembangunan dan Pengelolaan Rumah Susun.

Program-program pemerintah telah banyak mengurangi permasalahan perumahan. Tetapi juga tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada. Bahkan muncul pula kendala hambatan di tengah perjalanan pelaksanan program-program tersebut. Masyarakat, utamanya dari masyarakat berpenghasilan rendah, seringkali kesulitan mengakses informasi terkait program-program tersebut. Seringkali terdapat kelompok masyarakat yang tidak bersedia dan tidak setuju mengikuti program bantuan pemerintah dengan beragam alasan seperti, ketidakmampuan swadaya atau ketidakmampuan membayar cicilan kredit, meskipun telah disubsidi besarannya.

Rumah Berbasis Komunitas

Rumah berbasis komunitas merupakan rumah atau perumahan yang dibangun dan dikelola oleh komunitas. Kenapa harus komunitas? Komunitas (Sonarno) merupakan sebuah identifikasi & interaksi sosial yang dibentuk dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Komunitas (Paul B. Horton dan Chaster L. Hunt) merupakan kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi satu sama lainnya. Komunitas memiliki beberapa manfaat keuntungan sebagai berikut:

  1. Media Penyebaran Informasi, dimana dalam sebuah komunitas, setiap anggota dapat saling bertukar informasi (baik membagikan atau pun menerima) yang terkait dengan tema komunitas yang terbentuk.
  2. Terbentuk Jalinan/Hubungan antar sesama anggota komunitas yang memiliki hobi atau pun berasal dari bidang yang sama.
  3. Saling Bantu/Dukung, antar anggota komunitas (karena berasal dari bidang yang sama) dapat menjadi saling membantu antar sesama anggota atau pun ke luar anggota komunitas.

Bertolak dari identitas yang sama dan manfaat serta keuntungan anggota dalam atmosfer komunitas, maka (anggota-anggota) komunitas dengan permasalahan perumahan yang sama dapat saling bantu untuk membangun rumah mereka sendiri.  

Kesamaan karakteristik tersebut akan memungkinkan mereka mudah dalam  bergotongroyong mewujudkan impian rumah. Bayangkan jika seorang tukang bakso  secara soliter membangun rumah! Maka penyediaan tanah akan menjadi kendala besar. Semisal ia telah menentukan pilihan lokasi tanah tertentu, dengan pertimbangan harga murah, belum tentu lokasi tanah pembangunan rumah sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Daerah. Pertimbangan akses sarana dan prasarana perumahan apakah sudah sampai di lokasi tersebut? Kriteria pertimbangan lain, kecocokan dengan lingkungan sekitar tanah yang akan dibangun rumah.

Akan berbeda hasilnya jika komunitas pedagang bakso keliling dengan 50 anggota misalnya merencanakan dan membangun perumahan secara bersama-sama. Tentunya mereka dapat saling berbagi beban dan saling bantu mewujudkan impian rumah tersebut. Pihak pemerintah baik pusat maupun daerah dapat menempatkan program yang sesuai tergantung tingkat penghasilan dan kesiapan dana, serta mengkomunikasikan dengan pihak terkait semisal BPN untuk pertanahan serta Bank pendamping untuk kemudahan pinjaman.

Pihak pemerintah baik pusat maupun daerah mendukung, melakukan pendampingan dan fasilitasi serta membantu komunitas dalam pelaksanaan program. Mewujudkan rumah dalam komunitas, bagi warga Masyarakat Berpenghasilan Rendah memiliki keuntungan sebagai berikut:

  1. Komunitas dapat menentukan sendiri desain rumah mereka. Dengan desain yang mereka tentukan sendiri (mungkin dengan bantuan arsitek atau konsultan) maka keinginan akan gambaran rumah impian menjadi lebih nyata. Perihal desain rumah sering menjadi salah alasan warga tidak mau menghuni rumah susun yang ditawarkan pemerintah.
  2. Komunitas melakukan pengawasan langsung pembangunan rumah karena merekalah yang berkepentingan langsung. Tentu saja hal ini dapat dilakukan dengan pendampingan.
  3. Mereka menentukan sendiri tata kelola pembangunan rumah mereka. Mereka juga dapat melakukan pengelolaan secara mandiri atau bergantian antar tetangga dalam mengawasi pelaksanaan pembangunan rumah. Dengan basis komunitas maka diharapkan tata kelola dapat ditentukan secara ikhlas bersama dan lebih mudah.
  4. Kehidupan dalam perumahan komunitas lebih harmonis dengan adanya kesamaan identitas komunitas. Hal ini meminimalisir terjadinya konflik.
  5. Rasa tanggung jawab warga komunitas dalam merawat rumah mereka lebih besar

Sistem produksi dan pendekatan baru dalam perencanaan dan pembangunan perumahan dan permukiman, perlu dikembangkan lewat diskusi-diskusi dalam komunitas. Konsep-konsep kearifan budaya lokal di masing-masing daerah perlu terus dipertahankan dan ditumbuhkan.

Konsep rumah berbasis komunitas ini sejalan dengan anjuran John F C Turner dalam bukunya Housing By People, Kembalikan kepada rakyat hak mereka untuk memanfaatkan sumberdaya dan menentukan sendiri pilihan terbaik diantara segala altenatif yang terbuka bagi masa depan kehidupan mereka, dan masalah perumahan dengan sendiri akan terpecahkan.

Penutup

Hari-hari ini kita mudah menentukan makna nasionalisme. Kita mudah menunjukkan pada peta bentangan wilayah negara Indonesia. Kita akan mudah menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia, yang berbahasa persatuan Bahasa Indonesia. Namun bayangkan apakah mudah memaknai nasionalisme sebelum momentum pembacaan naskah proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Sebelum momentum hari kemerdekaan itu, Indonesia adalah sebentuk impian akan kemerdekaan pada 1340 suku bangsa. Indonesia masih merupakan ide-ide berserak dalam pemikiran tokoh dan pejuang kemerdekaan seperti RA Kartini, Soewardi Soeryaningrat, Cipto Mangoenkoesoemo, HOS Cokroaminoto, Tan Malaka dan lain seterusnya. Imagined Comunities, komunitas-komunitas terbayang (meminjam istilah Benedict Anderson), akhirnya menemukan kesadaran nasionalisme final, setelah melalui perjuangan bersama di segenap lini melawan penindasan kolonialisme. Rumah berbasis komunitas akan terwujud dengan kesadaran dan usaha gotong-royong segenap anggota komunitas (pemerintah dapat pula mengambil peran),  sebagaimana 1340 suku bangsa di nusantara yang akhirnya menyadari rumah bangsanya, rumah nasionnya :Indonesia


Daftar Pustaka

Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. Arsitektur dan Kota Di Indonesia, Penerbit Alumni. Th 1997. Artikel : Pemukiman untuk Masyarakat Miskin, hal 55 dan artikel Sistem Produksi Pembangunan Perumahan, hal 69.

Benedict Anderson. Imagined Communities, Komunitas-komunitas Terbayang. Pustaka Pelajar, cetakan kedua. 2002.

https://perumahan.pu.go.id/
https://www.pelajaran.co.id/2019/10/pengertian-komunitas-tujuan-manfaat-dan-contoh-komunitas.html
https://news.unika.ac.id/2018/09/komunikasi-kaum-marjinal/
https://pengertiandefinisi.com/pengertian-komunitas-manfaat-komunitas-dan-beberapa-pertimbangan-dalam-pembentukan-komunitas/

Leave a Reply

Your email address will not be published.